Demokrasi Sedangkal Mata Kaki
Kegaduhan seperti biasanya terdengar di setiap pagi, bukan berasal dari rumah aryo, melainkan tetangga yang terkekang pada musik dangdut tahun 90-an, seperti mewajibkan dirinya untuk menyetel musik itu setiap pagi hari. Telinga Aryo terbiasa dengan keserakahan itu, ia menganggap sebagai pengganti jam weker yang sudah ia rusak akibat mengganggu ketenangan tidurnya. Aryo merupakan bocah kecil yang sudah diajarkan tentang demokrasi oleh Pak Darmojo sejak dini, ia adalah guru satu-satunnya yang Aryo percaya. Aryo anak yang introvert, anak tunggal yang tidak diberikan kakak dan adik. Sehingga, lingkungan memberikan pelajaran bahwa kesendirian merupakan ketenangan yang sebenar-benarnya. Tidak ada perintah dalam hidup Aryo. Sehingga sebuah jam pun Aryo membencinya, ia menganggap manusia yang memakai jam tangan dan bergantung pada waktu merupakan manusia yang tidak demokrasi, kebebasan mereka sudah direnggut oleh sebuah barang pabrikan. “Pikir Aryo
Aryo merupakan manusia yang mendeklarasikan dirinya sebagai manusia yang sangat bebas atas kehendak sendiri, pelajaran demokrasi yang ia terima hanya baru sampulnya saja sehingga arti demokrasi menurutnya adalah hidup bebas-sebebasnya manusia, mengingat pada pertengahan tahun lalu Pak Darmojo meninggal dunia maka Aryo enggan memperdalam arti demokrasi itu. Mungkin kata bung Jason ranti benar bahwa“manusia yang bahaya adalah manusia yang hanya membaca satu buku” kalimat tersebut sangat cocok menggambarkan bagaimana sikap Aryo yang hanya bergantung pada ilmu pak Darmojo sehingga dangkal untuk menyikapi arti demokrasi. Ia luput akan demokrasi yang sebenarnya.
Singkat cerita tahun ini Aryo menginjak umur di mana semua remaja seumurannya baru lulus dan terbebas dari peraturan SMA, seharusnya Aryo berada dalam barisan foto wisuda itu, akibat sifatnya yang introvert, Aryo tidak pernah merasakan bagaimana sekolah di luar seperti manusia lainnya, hal itu Aryo tidak ingin kebebasannya direnggut oleh peraturan sekolah dan merasa bebas sejak dini. Namun di samping itu Aryo tetap menjalankan Ujian dan mendapatkan ijazah sebagai bukti tidak ada perbedaan antara Aryo dan remaja yang sekolah umum, waktu yang terus berputar akhirnya mempertemukan Aryo dengan kebingungan, berawal pada tahun setelah ia lulus. Aryo menerima paksaan orang tuanya yang mengharuskan dirinya kuliah atau tetap pada pendirian kebebasan yang sudah ia pegang teguh sejak kecil, “aku adalah manusia bebas” teriak Aryo di depan cermin kamarnya.
Dalam kebulatan tekadnya, kebebasan Aryo merujuk untuk ia harus bekerja. Hal itu ia lakukan guna menyambung hidup supaya tidak bergantung pada kedua orang tua, yang seenaknya memerintah Aryo hanya karena ia memiliki uang dan siap menafkahinya. Aryo selalu mengingat bahwa dirinya adalah manusia bebas yang tidak bergantung dan selalu melakukan kehendaknya sendiri. Hari itu tiba, lamaran yang Aryo kirim ke salah satu perusahaan memanggilnya untuk melakukan interview. Dan hari itu merupakan sejarah baru bagi Aryo akan mengenal dunia yang lebih luas.
Untuk menuju tempat kantor, Aryo harus rela menaiki bis yang mengarah pada jalur tempat yang ia tuju, dengan sifat introvert dimiliki, Aryo langsung menempatkan dirinya pada tempat duduk tanpa adanya senyum di wajahnya. Mungkin orang lain menilai bahwa Aryo adalah manusia yang judes, tapi Aryo dengan santainya duduk dengan posisi kaki menopang kaki satunya dan mengarah ke penumpang lain, sangat tidak sopan namun Aryo menilai bahwa itu bentuk kebebasan. Pertengahan perjalanan sudah Aryo lalui, Aryo sesekali memperhatikan sistem kerja di dalam bis. Ada supir satu dan kenek dua, kenek satu berteriak meneriaki arah tujuan dengan mengeluarkan kepalanya di luar jendela, kenek lain menariki uang, sedangkan supir hanya bisa memerintah dan memarahi sesekali kedua kenek tersebut.
Aryo menilai bahwa posisi tertinggi didapatkan oleh supir, yang seenaknya menyuruh para kenek itu. Sangat disayangkan tidak adanya kebebasan yang dimiliki oleh para kenek, dan hal itu tidak ingin terjadi pada dirinya. Kebebasan pemikiran Aryo membentuk penilaian mungkin dua kenek itu adalah manusia yang belom demokrasi dan bodoh, dan juga supir itu penjajah yang egois hanya karena bermodalkan keahliannya mengemudi. Aryo tertawa dalam hati sambil berkata "akulah manusia satu satunya yang bebas"
Mengingat jadwal interview pada pukul delapan pagi, Aryo dengan santainya berpikir ingin tiba pukul sepuluh pagi. Hal itu ia bentuk sebagai kebebasan dari tuntutan waktu, Aryo bangga dengan dirinya yang tetap bebas pada dunia luar.
Di sisi lain, ada yang mengganggu pemikiran Aryo. Dari awal ia keluar rumah dan bertemu setiap orang pasti selalu dalam perintah, baik anak buah dengan atasannya, atau supir bis pun yang memiliki jabatan tertinggi patuh hanya pada kalimat "dilarang putar balik", benar-benar masyarakat yang belum demokrasi.
Sikap bebas nya membuat Aryo berpikir masa bodo pada sekelilingnya, Aryo menyalakan rokok yang ia bawa sebagai penenang. Aryo masih berpikir ia adalah manusia paling bebas untuk melakukan kehendaknya sendiri, asap yang dikeluarkan dari rokok Aryo telah mengganggu pria paruh baya dibelakangnya. Sekali Aryo di tegur agar mematikan rokok itu namun Aryo menjawab "Saya manusia bebas, dan bebas untuk merokok" dengan jawaban yang ia lontarkan membuat pria paru baya tersebut marah dan menampar Aryo, sambil berkata "sayapun bebas untuk melakukan apa yang saya mau, termasuk bebas melakukan kehendak yang mengganggu hak saya". Aryo terdiam dan merasa ada yang salah dengan kebebasannya.
Sudut pandang Aryo seketika berubah, ia berpikir tidak ada manusia bebas, dirinyapun diperintah oleh pemikirannya yang selalu menjadi bebas sehingga membuat Aryo menjadi manusia yang keliru, sejauh ini Aryo sadar bahwa dirinya bukan manusia bebas dan belum demokrasi. Pemikiran itu tiba pada saat Aryo mengingat tujuannya keluar dari zona nyaman, untuk mengenal dunia luar dan keharusan ia bekerja adalah bentuk bahwa Aryo bukanlah manusia bebas dan mungkin lebih tepatnya aryo berpikir semua orang sudah bebas tetapi selalu dibatasi oleh hak dari setiap orang bahkan dibatasi untuk bergerak demi tujuan hidup kita.
30-12-2019
Rizal wahid
Komentar
Posting Komentar