Harapku
Setiap malam aku sempatkan untuk bertamu di kediamanmu, dalam keadaan lelah dan baju kusut seusai pulang kerja, Hanya untuk melepas rindu yang terpenjara.
Kita berbincang layaknya seorang guru dan murid, di seruputnya teh dan kopi yang kamu buat, sambilan memandang bulan yang bulat layaknya kerinduan.
Aku berharap, atau mungkin kau juga. Pada waktu yang tidak sesegera lintas begitu saja, biarkan kita satu malam saja untuk menikmati malam yang panjang. Lagi-lagi aku memohon pada alam
"Apa kau mengantuk ?"
Tahan lah, sambil tersenyum tipis aku melihatmu. Sembari membayangkan aku lelaki yang mematikan lampu saat waktunya kamu tidur, atau membayangkan dengan segala hormat kasih sayang aku yang mengecup kening untuk awal mimpi indahmu, Sesederhana itu kah kebahagiaan.
Aku terasa nyaman saat ini, dengan obrolan hangat yang lupa akan waktu. Obati kelelahanku, lupa untuk besok kembali bekerja, ah sudahlah. Yang penting aku bersamamu malam ini.
Tidak terasa cangkir yang terisi penuh tadi oleh teh dan kopi menjadi kosong, tapi tidak untuk rinduku. Tidak sedikitpun berkurang dan entah sampai kapan terobati, aku menolak tidak merindukanmu.
Matamu sayu, sepertinya tidak tahan lagi untuk mendengar dan bercerita satu sama lain, toh minuman pun sudah habis. Di tambah waktu sudah menunjukan pukul 10:00 malam, tapi aku enggan pulang sebelum ucapan itu.
"Terima kasih untuk malam ini, jangan lupa besok kembali bekerja dan menabung untuk melamarku, jaga kesehetan. Aku bahagia bersamamu, selamat malam." Bisiknya sambil menciumku dengan hangat
Aku mulai melangkah pergi, begitpun dia yang mulai menutup pintu secara perlahan.
Aku harap untuk sudahi kebiasaan seperti ini, yang aku datang ke rumahmu lalu pamit untuk pulang. Semoga aku datang dan tidak untuk pamit kembali, harapku.
#pecandupena
Rizalwahid~
Komentar
Posting Komentar