Kemurkaan
"Terbentang luas dan tak berujung
Merasakan pepohonan dari bibit hingga usang,
Pun menantikan penyu yang letih berlayar dan hinggap di kepulauan
Tak terhalang, bebas, dan indah sanubari" Itu sedikit penggalan cerita sibulat dulu.
...
Usang dan terabaikan
Pohon-pohon muda layu nan mati
Laut hitam dan tak karuan warnanya
Musim tak beraturan bagai puisi tanpa rima
Hari ini hujan besok panas besok hujan besok panas, Lalu berkelanjutan hingga musnah.
Akibat dari sipenghuni yang tak manusiawi, tak bermoral, dan kebiadapan.
Persetan dengan dia, dia, dan dia. Menebang pohon membangun gedung, menebang pohon membangun pabrik, menebang otak membangun kegilaan pada dirinya.
Langit yang diam kau pasang gedung pencakar langit,
Jangan salahkan jika dibalas tangisan hujan terus menerus lalu banjir.
Pohon yang lugu kau tebangi, jangan salahkan jika dia membakar diri dan hasilkan korban sesak pernafasan.
Kesabaran tanah kau injak injak, kau keruk hanya mencari bongkah batu bara dan emas, sibulat siap balas dengan gelombang tanah dan hancurkan pemukiman.
Atau kemurkaan laut atas nelayan nelayan yang biadab, yang meminta tsunami atas bom bardir terumbu karang.
Tanggal 22 bulan april. Peringatan hari si bulat.
Kau agung-agungkan bagai putri khayangan
Kau sanjung bagai ibu pertiwi
Kau puja-puja bagai tuhan yang maha agung
Esoknya. Kembali kau hina tak bermoral
Ketidak pedulian atas keegoisan si dia yang biadab.
Bosan dan kesabaran hilang. sewaktu waktu kau akan tahu kemurkaan sibulat, dan berujung kehancuran lalu musnah!
Hening...
#pecandupena
Rizalwahid~
Komentar
Posting Komentar